Untung yang bertemu wartaandalas.com
di kawasan Sapan kelurahan Durian II, menuturkan berbagai pengalaman
yang menurutnya terbilang aneh. Betapa tidak, dari profesinya sebagai
penggali kubur, beberapa kali ia mendapatihal-hal yang terjadi diluar
akal sehatnya, baik pada saat penggalian liang lahat maupun saat prosesi
pemakaman.
Sambil
sesekali menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, ia pun mulai
menceritakan beberapa peristiwa yang pernah dialaminya. Namun demikian,
demi menjaga nama baik keluarga yang ditinggalkan, ia tak mau
menyebutkan proses pemakaman siapa saja yang mengalami keanehan atau
keganjilan.
“Di
pemakaman Dwi Lahan yang ada di Sapan, seingat saya sudah tigs kali
saya mengalami keanehan. Yang pertama, keanehannya adalah air yang
menyembur dari dalam lubang yang sudah saya gali,”paparnya.
Padahal,
lanjut Untung, sebelum jenazahnya dibawa ke pemakaman, tak ada
sedikitpun air yang mengalir disana. Tetapi begitu keranda yang berizi
jenazah tersebut memasuki gapura pemakaman, tiba-tiba saja air menyembur
dali dalam bumi.
“Saya
dan kawan-kawan yang sedang menggali makam sudah berusaha menghentikan
dengan menyumbat semburan air itu. Tapi tetap saja airnya menyembur.
Bahkan, ketika saya tutup dengan tanah dan saya injak dengan kuat, kaki
saya terpental. Seperti ada sebuah kekuatan yang menolak pijakan kaki
saya,” terangnya, sambil mengenang peristiwa tersebut.
Selain
peristiwa tersebut, Untung juga mengisahkan tentang kejadian aneh
lainnya, yakni lubang lahat yang tak muat untuk memasukan jenazah.
“Saat
itu, saya sangat yakin bahwa ukuran galian liang lahatnya sudah saya
lebihkan beberapa centimeter. Tetapi ketika jasad yang meninggal dunia
itu dimasukkan, lubang itu tak cukup untuk menampung ukuran badan
jenazah,” ujarnya, terlihat serius.
Usai
menyalakan rokok kreteknya, ia pun kembali melanjutkan ceritanya.
Dikisahkan, setelah jasad tersebut tak bisa masuk, ia pun berinisiatif
untuk kembali menambah ukuran panjang lubang kunuran itu.
“Saya
ingat betul, waktu itu sudah saya tambahkan sekitar 10 centimeter.
Tetapi ketika jenazah dimasukkan, lagi-lagi ukurannya tak juga cukup
untuk menampung jenazah. Lalu saya coba untuk menambah ukuran dengan
kembali menggali tanah kuburan itu. Tapi sia-sia. Kali inipun tetap tak
muat,”ungkapnya.
Setelah
kami berunding dengan keluarga dan tokoh masyarakat yang hadir pada
saat itu, akhirnya kami memaksakan jenazah itu dimasukkan dalam lubang
yang sempit, dengan sedikit menekuk dibagian kakinya.
“Setelah
kejadian itu, kami semua sepakat untuk tidak bercerita pada siapapun,
demi menjaga nama baik keluarganya. Andapun termasuk orang yang tidak
akan saya kasih tau,” imbuhnya, sambil tertawa.
Selain
kisah yang aneh dan menyusahkan, Untung yang pernah bekerja di sebuah
perusahaan kontraktor ternama dan berkantor di Jakarta sehingga ia harus
berulangkali naik pesawat Garuda jika dipanggil kekantor pusat itu juga
menceritakan tentang peristiwa aneh saat sedang menggali kuburan,
tetapi menyenangkan.
Betapa tidak, untuk penggalian satu makam dilokasi yang memiliki struktur tanah cukup keras tersebut, biasanya makan waktu hingga 4 jam.
“Namun,
belum saja sampai dua jam kami menggali, tanpa kami sadari lubang yang
kami gali sudah cukup. Seperti tak percaya, kemudian kami melihat jam,
dan ternyata baru separuh waktu dari biasanya,” tuturnya lagi.
Memang,
lanjut Untung, semasa hidupnya jenazah tersebut dikenal sebagai orang
yang sangat baik dalam bergaul ditengah masyarakat.
“Dari
beberapa peristiwa ini, kiranya patut kita jadikan sebagai pelajaran
agar nantinya kita dimudahkan dalam segala sesuatunya, saat kita
menghadap sang khaliq,”pungkasnya. (ap)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar